Hukrim  

Merayakan Kebangkitan atau Merayakan Kebohongan yang Diwariskan??

Oleh : Margaretha Lusiana Tay.
AKTIVIS PMKRI CABANG KUPANG.

ENDE, CAHAYANTT.COM – Setiap tanggal 20 Mei, kita diajak untuk menengok ke belakang di sebuah momentum yang disebut sebagai awal dari kesadaran kolektif bangsa ini: Hari Kebangkitan Nasional. Kita mengulang narasi yang sama, memutar ulang pidato yang serupa, dan menuliskan ucapan yang nyaris identik dari tahun ke tahun. Namun, pertanyaannya sederhana sekaligus mengganggu: apakah yang kita rayakan hari ini benar-benar kebangkitan, atau justru sekadar ritual tahunan untuk menutupi kenyataan yang kian merosot?

Kebangkitan, dalam makna yang paling jujur, seharusnya adalah kesadaran. Ia lahir dari keberanian untuk melihat kenyataan, bukan sekadar menghafal sejarah. Tapi hari ini, kesadaran itu seperti sengaja ditidurkan. Kita hidup di tengah paradoks: di satu sisi, jargon persatuan dan kemajuan digaungkan, sementara di sisi lain, ketimpangan sosial semakin menganga, hukum terasa tumpul ke atas, dan suara rakyat sering kali hanya dianggap sebagai gangguan, bukan aspirasi.

Apakah ini yang disebut kebangkitan?

Ataukah kita sedang merayakan ilusi yang diwariskan—sebuah kebohongan kolektif yang dibungkus rapi dalam seremoni?

Negara ini tampak sibuk membangun citra, tetapi lalai membangun kepercayaan. Di tengah hiruk-pikuk pembangunan infrastruktur dan klaim pertumbuhan ekonomi, ada suara-suara yang sengaja diredam—mereka yang kehilangan tanahnya, mereka yang dipinggirkan oleh kebijakan, dan mereka yang dipaksa diam demi stabilitas semu. Ironisnya, semua itu terjadi atas nama “kemajuan”.

Lebih menyedihkan lagi, generasi muda yang seharusnya menjadi motor kebangkitan justru kerap dijadikan objek, bukan subjek. Mereka dirayakan dalam slogan, tetapi dibatasi dalam ruang gerak. Kritik dianggap ancaman, bukan bentuk cinta terhadap negeri. Padahal, sejarah mencatat bahwa kebangkitan bangsa ini lahir dari keberanian untuk melawan—bukan dari kepatuhan yang membuta.

Kita juga perlu jujur bahwa kebohongan tidak selalu datang dalam bentuk yang kasar. Ia bisa hadir dalam kalimat yang terdengar indah, dalam pidato yang menggugah, dalam janji-janji yang tak pernah benar-benar ditepati. Kebohongan yang diwariskan adalah ketika kita terus diajarkan untuk bangga, tanpa pernah diajak untuk bertanya. Ketika kita diminta untuk percaya, tanpa diberi ruang untuk meragukan.

Hari Kebangkitan Nasional seharusnya menjadi momentum refleksi, bukan sekadar perayaan. Ia seharusnya menjadi cermin—untuk melihat sejauh mana kita benar-benar bangkit, dan sejauh mana kita hanya berpura-pura berdiri tegak di atas fondasi yang rapuh.

Jika kebangkitan hanya berhenti pada seremoni, maka ia kehilangan maknanya. Jika nasionalisme hanya dijadikan alat legitimasi, maka ia berubah menjadi topeng. Dan jika kita terus menolak untuk jujur pada keadaan, maka yang kita rayakan bukanlah kebangkitan—melainkan kebohongan yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.

Mungkin sudah saatnya kita berhenti bertanya “apa yang bisa kita rayakan hari ini?”, dan mulai bertanya “apa yang harus kita perbaiki?”. Karena kebangkitan sejati tidak lahir dari perayaan, melainkan dari keberanian untuk mengakui bahwa kita belum benar-benar bangkit.

Dan barangkali, justru di situlah kebangkitan yang sesungguhnya dimulai.

Exit mobile version