banner 728x250

Ketika Kebijakan Anak Rantau Dan Sun Tzu Bertemu Di Satu Meja

banner 120x600
banner 468x60

Oleh: Kaka Son

Memilih Jalan Sendiri = Pertempuran Melawan Hayalan” Ketika Kebijakan, Anak Rantau, dan Sun Tzu Bertemu di Satu Meja.

banner 325x300

OPINI, CAHAYANTT.COM Semua peperangan adalah tipu daya. Karena itu, ketika mampu menyerang, kita harus tampak tidak mampu. Kalimat Sun Tzu ini bukan cuma buat jenderal. Dia hidup di jalanan, di lapak-lapak pinggir kota, di kepala anak muda yang terpaksa merantau karena takut digusur.
Musuh Terbesar, Hayalan di Kepala Sendiri
Bagi pedagang kecil di tanah pemerintah.

pertempuran pertama bukan melawan Satpol PP. Pertempuran pertama adalah melawan hayalan: “Kalau digusur, hidup tamat.” “Orang kecil tidak akan didengar.” “Pemda pasti musuh”.

Bagi Pemda, hayalan yang sama berbahaya Kalau dibiarkan, semua orang akan klaim tanah negara.” Tegas berarti harus keras.”
Solusi itu beban APBD. Sun Tzu sudah ingatkan 2500 tahun lalu, musuh terbesar sering kali bayangan dan ketakutan di kepala sendiri. Perang melawan persepsi atau hayalan musuh justru lebih melelahkan daripada perang di lapangan.

Tiga Kondisi Sun Tzu di Kasus Lapak Liar
Prinsip The Art of War bisa kita letakkan telanjang di atas meja penertiban lapak Kondisi Sun Tzu Versi Kebijakan Pemda vs Pedagang dan Hasilnya.

✓• Menang Mutlak
Kenal diri tambah kenal lawan luar dalam Pemda paham: aset harus tertib, tapi juga paham pedagang butuh makan. Pedagang paham tanah bukan miliknya, dan harus paham Pemda punya kewajiban melindungi rakyat kecil.

Lahir kebijakan relokasi strategis + kios murah + legalisasi ber-retribusi, Semua menang. Tertib tercapai, PAD naik, dapur tetap ngebul. Inilah “menang tanpa bertempur”.


✓ • 50:50
Kenal diri, buta soal lawan. Pemda cuma pede “gue yang punya aturan” tapi tidak riset kebutuhan pedagang, Atau pedagang cuma teriak “kami rakyat kecil” tapi tidak paham aturan aset negara. Tebak-tebakan Kadang gusur berhasil, kadang ricuh, kadang viral dan kepala daerah dicaci.

✓• Kalah Mutlak
Tidak kenal diri dan lawan Pemda asal gusur tanpa data dan tanpa solusi. Pedagang asal bertahan tanpa strategi hukum. Hancur dua-duanya. Citra Pemda rusak, pedagang kehilangan mata pencaharian, kota tetap semrawut.

Jadi kuncinya ada di “pemahaman” yakni ke dalam dan ke luar. Tidak cukup Pemda pede bawa pasal. Tidak cukup pedagang pede bawa air mata. Harus riset, harus dialog.

✓• Memilih Jalan Sendiri
Taktik Sun Tzu Anak muda yang memilih merantau karena Bapaknya terancam digusur itu sedang menjalankan The Art of War versi jalanan. Dia sadar: “Ketika mampu menyerang, kita harus tampak tidak mampu.” Dia tampak kalah lalu pergi dari kampung. Padahal dia sedang menyusun serangan: kumpul modal, belajar, lalu pulang bawa solusi. Dia menang melawan hayalan “orang miskin tidak bisa naik kelas”. Dan ketika pulang, dia ketemu Pemda yang juga sudah menang melawan hayalannya sendiri: bahwa “tegas” tidak harus sama dengan kejam.


✓• Setuju Tertib,
Tapi Menang Bersama Opini publik sudah jelas: tanah pemerintah harus tertib. Tapi publik juga menagih Pemda wajib siapkan solusi. Relokasi ke tempat resmi, kios murah, bantuan modal, atau legalisasi sementara dengan retribusi. Karena perang terbaik menurut Sun Tzu adalah perang yang tidak pernah terjadi.
Caranya? Kenali dirimu, kenali lawanmu, lalu buat strategi supaya dua-duanya tidak perlu mati. “Memilih jalan sendiri” bukan membangkang, Itu bentuk tertinggi dari memahami medan perang: kadang mundur dan kadang tampil lemah dulu, supaya bisa menang tanpa ada yang terluka.
Penataan juga perlu dilakukan secara bertahap dan humanis, dengan menghindari pendekatan yang bersifat represif.

Komunikasi publik yang transparan mengenai tujuan, rencana, dan manfaat kebijakan akan membantu masyarakat memahami arah pembangunan yang sedang dijalankan. Dengan demikian, kebijakan tidak lagi dipersepsikan sebagai tekanan, tetapi sebagai bagian dari upaya bersama untuk menciptakan masa depan yang lebih baik.

Pada akhirnya, pembangunan yang sejati bukan hanya tentang penataan fisik, tetapi tentang bagaimana menjaga keseimbangan antara kemajuan dan kemanusiaan. Kabupaten Ende membutuhkan kemajuan, namun kemajuan tersebut harus dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat, terutama mereka yang paling rentan. Kepemimpinan yang kuat bukanlah yang paling keras, melainkan yang mampu mendengar, memahami, dan merangkul.

banner 325x300
Penulis: Tim CahayanttEditor: Rony wangge

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *